Kategori
Uncategorized

Elementor #6802

Your Dream Vacation is Here

Enjoy Some You-Time

I am text block. Click edit button to change this text. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

The Perfect Surrounding

I am text block. Click edit button to change this text. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

Fine Food Cuisine

I am text block. Click edit button to change this text. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

The Best Experience Ever

"Click edit button to change this text. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo"
Chris Jones
Travel Blogger

Savour Your Next Holiday

Kategori
Uncategorized

Napas Pelancong

In addition to racking up frequent flyer miles, some travelers may also experience bad breath, and possibly a condition known as “tooth squeeze,” while flying the friendly skies.

Kategori
Uncategorized

What Is Halitosis?

[ad_1]

More than 80 million people suffer from chronic halitosis, or bad breath. In most cases it originates from the gums and tongue. The odor is caused by wastes from bacteria in the mouth, the decay of food particles, other debris in your mouth and poor oral hygiene. The decay and debris produce a sulfur compound that causes the unpleasant odor.

 


;

What causes bad breath?

 


;

Bad breath is primarily caused by poor oral hygiene but can also be caused by retained food particles or gum disease.

 


;

Does bad breath come from other sources than the mouth?

 


;

Bad breath also may occur in people who have a medical infection, diabetes, kidney failure or a liver malfunction. Xerostomia (dry mouth) and tobacco also contribute to this problem. Cancer patients who undergo radiation therapy may experience dry mouth. Even stress, dieting, snoring, age and hormonal changes can have an effect on your breath. An odor that comes from the back of your tongue may indicate postnasal drip. This is where mucus secretion, which comes from the nose and moves down your throat, gets stuck on the tongue and causes an odor.

 


;

Why is saliva so important in the fight against bad breath?

 


;

Saliva is the key ingredient in your mouth that helps keep the odor under control because it helps wash away food particles and bacteria, the primary cause of bad breath. When you sleep, however, salivary glands slow down the production of saliva, allowing the bacteria to grow inside the mouth. To alleviate “morning mouth,” brush your teeth and eat a morning meal. Morning mouth also is associated with hunger or fasting. Those who skip breakfast, beware, because the odor may reappear even if you’ve brushed your teeth.

 


;

Do certain foods cause bad breath?

 


;

Very spicy foods, such as onions and garlic, and coffee may be detected on a person’s breath for up to 72 hours after digestion. Onions, for example, are absorbed by the stomach, and the odor is then excreted through the lungs. Studies even have shown that garlic rubbed on the soles of the feet can show up on the breath.

 


;

How do I control bad breath?

 


;

It is important to practice good oral hygiene, such as brushing and flossing your teeth at least twice a day. Proper brushing, including brushing the tongue, cheeks and the roof of the mouth, will remove bacteria and food particles. Flossing removes accumulated bacteria, plaque and food that may be trapped between teeth. To alleviate odors, clean your tongue with your toothbrush or a tongue scraper, a plastic tool that scrapes away bacteria that builds on the tongue. Chewing sugar-free gum also may help control odor. If you have dentures or a removable appliance, such as a retainer or mouthguard, clean the appliance thoroughly before placing it back in your mouth. Before you use mouthrinses, deodorizing sprays or tablets, talk with your dentist, because these products only mask the odor temporarily and some products work better than others.

 


;

What is my dentist’s role?

 


;

Visit your dentist regularly, because checkups will help detect any physical problems. Checkups also help get rid of the plaque and bacteria that build up on your teeth. If you think that you suffer from bad breath, your dentist can help determine its source. He or she may ask you to schedule a separate appointment to find the source of the odor. Or, if your dentist believes that the problem is caused from a systemic (internal) source, such as an infection, he or she may refer you to your family physician or a specialist to help remedy the cause of the problem.

 


;

Reviewed: January 2012

[ad_2]

Source link

Kategori
Artikel Uncategorized

Ngedot: Baik atau Buruk?

Ngedot merupakan salah satu kebiasaan yang perlu mendapat perhatian. Perlu perjuangan bagi beberapa orang tua untuk ngelepas anak mereka dari kebiasaan ngedot ini.

Kategori
Uncategorized

Toddler Tooth Tips

Congratulations! Like most children between 3 and 6 months, your infant just received his or her first tooth. But as a parent, do you know how to take care of those teeth to ensure a healthy smile that will last a lifetime?

Kategori
Artikel Uncategorized

Daur Ulang Sikat Gigimu, Yuk!

Berapa kali dalam setahun sebaiknya sikat gigi tuh diganti? Tahu gag kalo bulu sikat gigi umumnya akan mulai rusak dalam pemakaian 3-4 bulan-an. Jadi, 3 atau 4 kali adalah jumlah pergantian  yang disarankan. Bisa lebih, gag boleh kurang.

Kategori
Uncategorized

Kitab Gigi GAUL Terbaru – 4 Tepat 5 Sempurna

4tepat 5sempurnaMenyikat gigi merupakan permasalahan yang dapat dikatakan gampang-gampang-susah. Gak cuman pasien yang kekurangan informasi dan kesulitan memahami keterangan yang ada, kadang doktergigi juga menemukan kesulitan menjelaskan seputar penyikatan gigi. Untuk mengatasi kedua ‘masalah’ tersebut, DokterGigiGAUL menghadirkan buku petunjuk yang dapat diguakan sebagai referensi oleh kedua belah pihak. Menjadikan gigi sehat dan senyum cemerlang hal yang gampang-gampang-gampang!

Kitab GAUL seputar kesehatan gigi dan mulut yang lainnya bisa dilihat di sini.

What are you waiting for? Cari di toko buku terdekat atau hubungi DokterGigiGAUL, segera ya!

 

Kategori
Uncategorized

Jadi Dokter/Gigi? Ini Dia Tahapan-Tahapannya!

Hasil browsang-browsing sana sini, kanan kiri, baca baci, ketemu sama pernyataan “Jadi dokter/gigi tuh enak, banyak duit..” jadi tergelitik sedikit untuk membahas apa iya jadi dokter/gigi itu ‘enak’. Ato malah sebaliknya, malah enek?

   Markilai. Mari kita mulai.

     Menjadi dokter/gigi, sama seperti profesi lain pada umumnya, butuh perjuangan. Ada suka, duka, manis, pahit  sampai tangis dan tawa yang harus dilalui.

     Buat yang pengen tau banget ato yang pengen tau aja, ada beberapa tahapan yang perlu dilalui seseorang sebelum menjadi dokter/gigi. Apa aja?

1. Ikut tes seleksi masuk PTN/PTS.

     Tahap pertama yang harus dilalui untuk memulai memnjadi dokter gigi, ya ikut tes seleksi masuk PTN/ PTS yang menyelenggarakan perkuliahan kedokteran/gigi. Uji kemampuan [dan keberuntungan] kamu melalui jalur seleksi yang ada.

Pilih jurusan kedokteran/gigi, soalnya agak-agak gag mungkin kalo mo jadi dokter/gigi ikut tes seleksi masuk fakultas selain fakultas kedokteran/gigi.

     Proses tes seleksinya ada yang melalui jalur SNMPTN (seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri), melalui jalur  PBUD (penelusuran bibit unggul daerah), jalur khusus, dll. Terserah mana jalur yang kamu mau ambil.

2. Menjadi Sarjana Kedokteran/Gigi [S.Ked/SKG]

     Proses selanjutnya adalah menjadi Sarjana Kedokteran/ Gigi, melalui proses perkuliahan selama 4-6 tahun. Bervariasi, soalnya kemampuan dan kemauan tiap orang kan beda-beda.

Proses ini meliputi, kuliah, praktikum, beberapa skill lab dan ujian.

     Kalo disamakan dengan fakultas lain, ini meliputi sampai pembuatan skripsi.

3. Menjadi Dokter/Gigi Muda.

     Di kedokteran/gigi istilah dokter/gigi muda lebih beken dengan sebutan masa koasistensi [koas].

catatankoas.blogspot.com

Bukan, bukan alat yang buat ngecat. Itu sih kuas.

     Masa koasistensi ini juga bervariasi antara 2-4 tahun. Beberapa variasi muncul karena faktor kerajinan, keuangan dan kenasiban. Makin baik faktor tersebut dimiliki, makin besar kemungkinan masa ini terlalui dengan cepat.

Menyelesaikan masa koas ini, sebenernya udah jadi dokter/gigi. Tapi belom boleh praktek secara bebas/ swasta.

4. Mengikuti Ujian Kompetensi.

     Sebelum boleh berpraktek swasta, sebelumnya, masih ada dua tahapan dulu yang musti dilewatin. Salahsatunya mengikuti ujuan kompetensi dokter/gigi.

     Tes ini untuk menguji kemampuan seorang lulusan dokter/gigi dalam memahami dan mengingat pelajaran yang diterima sekian tahun ke belakang masa kuliah dan koasnya.

     Keberhasilan melewati tahapan tes ini tergantung, seberapa kuat keinginan kamu untuk segera bisa berpraktek menjadi dokter/gigi. Kalo kamu ngerasa belom siap, bisa jadi ngaruh ke hasil tes, dan gag lulus-lulus..

5. Menjalani internship.

     Bahasa awamnya, magang.

     Kalo sebelumnya UKD/GI adalah versi teori dalam menguji kemampuan/ kesiapan seseorang yang telah menjadi dokter/gigi, internship ini adalah versi praktek-nya.

Proses ini wajib diikuti selama 1 tahun. Ini lebih kurang ajang pemanasan sebelum bener-bener turun praktek swasta ‘sendiri’.

083033_dokter460ts

     Gag seperti perkuliahan beberapa fakultas lain yang terbilang cepat, karena hanya melalui 2-3 proses diatas, proses menjadi dokter/gigi adalah proses yang lama. Buat beberapa orang bisa jadi terasa melelahkan.

Jadi kalo dibilang jadi dokter/gigi itu enak, ya enggag juga. Tapinya lagi, kalo dibilang jadi dokter/gigi gag enak, ya enggag juga..

     Intinya, jadi dokter/gigi, sama seperti profesi lain. Ada perjuangan. Kalo masalah dapet banyak duit, ada beberapa profesi lain yang mungkin menghasilkan lebih banyak duit dari profesi dokter.

Jangan menilai sesuatu dari luarnya atau hasil akhirnya aja.

Key?

NB: Mohon koreksi kalo ada kesalahan, soalnya sistem sekarang berbeda dengan yang dulu doktergigigaul jalanin. 🙂 Salam hangat

sumber: internet
Kategori
Kesehatan Gigi Umum Uncategorized

Gimana Cara Nentuin Perawatan Gigi Terbaik [Yang Diperlukan] ?

Beberapa pertanyaan datang menghampiri doktergigigaul seputar ‘ketakutan’ atau keluhan pasien mengenai perawatan yang dilakukan oleh doktergigi. Kenapa doktergigi menyarankan perawatan yang terkesan tidak perlu atau bahkan doktergiginya terkesan tidak terbuka mengenai perawatan yang akan dilakukan.

Well, have no fear, doktergigigaul is here!

     Mari kita kupas satu persatu. Pertama mengenai doktergigi yang gag terbuka soal perawatan.

     Doktergigi tipe ini, biasanya memang pada dasarnya adalah tipe yang perlu dipancing. Pasien harus proaktif dengan menanyakan banyak hal. Selama gag ada tindakan aktif bertanya dari pasien, sampai singa makan rumputpun, jangan banyak berharap kalau dokter gigi tipe ini akan berkicau banyak.

     Doktergigigaul dulu pernah, dan terkadang, jadi doktergigi yang tipe kayak gini. Berpegang pada prinsip, kalo pasiennya peduli ama kesehatan mulutnya, dia bakal nanya-nanya, dan kalo gag peduli dia bakal diem, doktergigigaul gag banyak berinteraksi.

     Bukan cuek atau somse ya, tapi bisa jadi udah kebanyakan pasien hari itu, jadi kecapekan. Kalau bisa, ngomong seperlunya aja deh, biar bisa segera istirahat.

Doktergigi juga manusia.

     Nah, kalo doktergigi yang banyak berkicau, ini beda lagi. Biasanya si dokter gigi bilang, gigi ini perlu perawatan ini, giginya perlu diginiin, digituin, bla, bla, dst, dst. Si pasien jadi bingung, apa iya perawatan(-perawatan) tersebut emang diperlukan? Atau cuma trik si doktergigi aja biar nambah pemasukan?

     Bisa juga si doktergigi banyak ngebahas permasalahan yang bukan menjadi keluhan pasien. Yang sakit gigi mana, yang dibahas gigi mana. Yang diharapkan pasien apa, yang diarahin entah kemana-mana.

     Gag nyambyung, cyiint..

     Di catatan ini doktergigigaul bakal ngasih sedikit pencerahan seputar kedua hal tersebut, agar pengalaman tersebut tidak terjadi lagi, atau pada keadaan yang lebih baik, gag akan terjadi pada diri kamu.

     Yang harus kamu lakukan sebenernya mudah. Kamu hanya perlu menanyakan beberapa pertanyaan berikut ke dokter gigi, baik untuk memancing, atau membantu diri kamu sendiri untuk menentukan perawatan terbaik apa yang diperlukan buat masalah kesehatan gigi dan mulut yang sedang kamu hadapi.

mikir perawatan nentuin

1. Bagaimana prosedur perawatan/ tindakan yang akan dilakukan?

     Cari tahu, prosedur apa yang akan dilakukan sejelas mungkin. Apakah perlu penyuntikan? Apakah bisa dilakukan penyuntikan kalau diperlukan? Apakah akan menimbulkan rasa sakit atau gag nyaman yang berkelanjutan paska perawatan?

     Kalau ada prosedur tindakan yang bikin kamu gag nyaman, kamu bisa menanyakan alternatif perawatan yang kamu anggap lebih nyaman. Mungkin, dan hanya mungkin, memang ada tindakan yang lebih ‘nyaman’.

Gag akan pernah tahu kalo gag ditanya, kan?

2. Kenapa perlu dilakukan perawatan/ tindakan tersebut?

     Cari tahu, apa yang mendasari perawatan yang akan dilakukan. Jangan langsung mengiyakan aja. Kalau kamu gag yakin dengan jawaban si doktergigi, kamu bisa menolak untuk dilakukan perawatan, mengingat apa ‘saran’ dan ‘alasan’ si doktergigi dan bandingkan dengan doktergigi lain.

Dua kepala selalu lebih baik daripada satu.

3. Apa pro dan kontra perawatan/ tindakan yang akan dilakukan?

     Pro ini meliputi, waktu yang lebih singkat sampai jumlah kunjungan yang diperlukan, termasuk kontrol-kontrol ini itu. Kalo kontra, meliputi, biaya perawatan, apakah ada yang lebih murah dengan hasil yang sama, atau mengenai rasa sakit, sebesar apa rasa sakit atau gag nyaman yang akan dirasakan.

     Seperti halnya nomor 2, membandingkan dengan doktergigi lain adalah pilihan yang baik. Siapa tahu, dokter gigi A melakukan perawatan dengan prosedur yang sama dengan doktergigi B, tetapi dengan biaya yang lebih terjangkau karena menerima kerjasama dengan asuransi kesehatan tertentu?

4. Apa yang akan dipilih doktergigi,kalau mereka menghadapi masalah yang sama pada diri mereka sendiri?

     Tanyakan ke dokter gigi, “Kalo dokter jadi saya, apa perawatan yang akan dokter pilih?”

     Biasanya doktergigi akan memilih yang terbaik untuk mereka, dan mereka yang ngerti prioritas seputar kedokteran gigi kan? 🙂

     Pada umumnya, nampak, beberapa doktergigi yang nyaranin perawatan ‘aneh’ [baca:mahal] malah milih perawatan yang ‘wajar’ aja [baca:murah]

     Ingat,mulut, mulut kamu. Gigi, gigi kamu. Kamu adalah orang yang paling bertanggung jawab menentukan mau diapain kesehatan gigi dan mulut kamu. Jangan banyak tergantung atau percaya sama doktergigi.

     Dokter gigi berperan sebagai pemberi nasehat,yang membantu menentukan pengambilan keputusan yang tepat, bukan sebagai pengambil keputusan yang utama!

Key? 😀

sumber: internet
Kategori
Uncategorized

Rejeki itu Cinta – Bagian 1

Rejeki itu memiliki banyak persamaan dengan cinta. Dan ini adalah cerita gw.

     Mendekati kelulusan jadi dokter gigi, otak gw mendadak berubah jadi otak bisnis. Bahasa gaulnya, duit-minded. Maklum berdasarkan gosip yang beredar dan gosip yang gw dengar jadi dokter itu kan profesi ‘makmur’. Kalo jadi dokter jaminan bakal sejahterra. Gag ada dokter yang hidupnya susah.

Lowongan alternatif pekerjaan dokter beragam. Mulai jadi dokter PNS sampai masuk institusi Polisi. Kalopun gag mau kerja kantoran, bisa buka warung [baca: praktek] di rumah sendiri.

     Gag pake capek, duit yang nyamperin. Menyenangkan..

     Informasi-informasi mengenai peluang dapet duit tersebut langsung gw cari. Mulai dari temen seangkatan, kakak angkatan di FKG, keluarga dekat berprofesi dokter/gigi sampai ke rumah ketua karang taruna. Bukan apa-apa, soalnya di rumah ketua karang taruna ini ada koneksi internet gratis. Jadi enak nyari informasi lewat internet, tapi gag keluar modal.

     Dan dari hasil penelusuran investigasi, dan melakukan cek dan ricek ke pihak yang berkecimpung di bidang ini, ternyata gw mendapat informasi kalo mau menjalankan praktek doktergigi gw harus menjalani PTT terlebih dahulu. Akhirnya ke jalan itulah gw melangkah selanjutnya.

     Ngedaftar, ngejalanin dan nyelesein PTT adalah kehidupan selanjutnya yang gw jalanin.

     Siapa nyana siapa mengira, kalo dari PTT inilah akhirnya gw menemukan jodoh gw. Iya, akhirnya seorang doktergigi cantik jelita, mau menerima gw sebagai pasangan yang akan menemaninya dalam sisa usianya.

(Batuk)

     Singkat kata, singkat cerita, gw mendapat kebahagiaan yang gag terkira. Gag perlu nunggu lama, sembilan bulan kemudian langsung lahir jagoan pertama buah cinta gw sama mantan pacar terakhir gw tersebut. Seorang lelaki muda tampan dan gagah hadir melengkapi keluarga kecil gw.

     Kehadiran putra pertama gw ‘memaksa’ gw untuk berpindah tempat PTT yang awalnya di pulau, ke arah daratan yang lebih dekat dengan kota domisili keluarga gw. Kota dimana gw berhasil membeli sebuah rumah kecil sederhana, hasil perjuangan menjalani PTT gw ditambah PTT istri gw.

     Karena gw termasuk orang rumahan, gw memutuskan untuk tidak menetap di daerah tempat gw melaksanakan PTT. Gw pulang balik tiap hari, dengan harapan, masih bisa ketemu dengan anak gw yang baru lahir tadi.

     Pulang pergi tiap hari selama 6 jam gw lakoni. Sekaligus, menjalani praktek swasta di klinik dekat rumah. Berangkat jam 6 pagi paska sholat subuh dan sarapan, meluncur 3 jam ke Puskesmas pengabdian sampai jam 2 siang, dan meluncur balik ke rumah selama 3 jam lagi.Dan dengan modal mandi sebentar, dilanjutkan praktek dari jam setengah 6 sore sampai jam 10 malam, karena klinik tersebut cukup ramai.

     Alhamdulillah, rejeki yang gw dapet boleh dibilang luar lumayan.

     Gabungan luar biasa dan cukup lumayan. Kebutuhan yang diperlukan anak istri sehari-hari, ngelengkapin rumah supaya layak tinggal dan ngirim sedikit kelebihan pendapatan ke orang tua mulus gw jalani selama 1 tahun pertama kehidupan pernkahan.

     Tapi, gag semua seindah terdengar atau dalam hal ini, terbacanya.

Segala sesuatu, indah atau gag indah datang dengan konsekwensinya masing-masing.

     Dalam kasus gw, cukup bikin nyesek. Jadwal jam mencari rejeki gw seperti yang dijelaskan sebelumnya berdampak pada ke hubungan antara gw dengan keluarga kecil gw.

     Jam 6 pagi, saat mulai berangkat kerja, anak gw masih tidur karena jam biologisnya mengharuskannya seperti itu. Pulang kerja jam 5 anak gw belum bangun tidur sorenya. Dan menunggu bocah kecil itu membuka matanya, gw udah harus berangkat praktek swasta sore lagi.

     Pulang praktek jam 10 malam, si kecil udah tertidur puas setelah seharian lelah bermain bersama bundanya. Dan berulang sampai ke pagi hari berikutnya lagi.

     Otomatis, gw nyaris gag ketemu dengan anak gw. Sekaligus hubungan sosial dengan istri tercinta juga gag berjalan mulus. Padahal, pengantin baru seharusnya kan banyak meluangkan waktu bersama, untuk lebih mengenal satu sama lain. Apalagi, gw sama sekali gag menjalani masa pacaran.

     Kenal, langsung meluncur ke daerah PTT masing-masing. 1 bulan kemudian, gw langsung memutuskan lamaran, dan 6 bulan kemudian langsung menikah. Tapi dalam waktu 6 bulan gag ada kontak-kontakkan fisik. Paling via telepon, karena jauhnya lokasi pengabdian gw dan istri.

     Gw ketemuan sama anak gw paling hari Minggu dan beberapa hari Sabtu kalo gw dapet dispensasi untuk gag masuk kerja, karena kecapekan menjalani rutinitas semingguan dari pagi sampai malam.

     Tapi, sayangnya, hari Minggu adalah jadwal nyetor cucu ke neneknya. Dan seharian anak gw berinteraksi dengan kedua Eyang Kakung dan Eyang Putrinya. Gw harus legowo. Gw gag bisa menyalahkan siapapun.Maklum cucu pertama, dan ketemuan cuman sekali seminggu bener-bener dimanfaatin secara maksimal oleh mertua gw.

     Salah gw yang terlalu ngoyo [sekedar informasi, bukan karena gw pegel-pegel] nyari rejeki.

     Padahal gw selalu berfikir, gw cuman mau keluarga gw bahagia. Gw mau menunjukkan seberapa besar rasa cinta yang gw punya buat mereka, dengan memenuhi kebutuhan mereka. Dan mencari uang yang diperlukan untuk itu semua, adalah harga mati untuk melakukannya.

     Ternyata ada yang gw gagal pahami. Dan ini terungkap setelah gw melakukan perbincangan kecil dengan istri saat makan malam sepulang gw dari praktek.

     Berawal dari keluhan gw ke istri, betapa gw kehilangan momen-momen penting tumbuh kembang anak gw. Anak gw jadi ‘asing’ buat gw, dan gw takut, anak gw juga ngerasa kalo gw adalah sosok asing buat dia.

     Gw gag tau kapan anak gw pertama kali bisa melakukan gerakan kuda-kuda merangkak.Gw gag pernah melakukan hal-hal lucu khas anak bayi yang dia lakukan seharian. Gw gag tahu betapa rewelnya anak gw sehari-hari dan  gag pernah menyaksikan langsung, saat dia mengucapkan kata jelas pertamanya

“AYAH”

     Meskipun dia jarang berinteraksi, tetapi menurut video rekamandari istri gw, itulah kata pertama yang bisa dia ucapkan secara jelas.

Sedih? Gag usah naburin garem di luka hati gw yang menganga dengan nanya hal kayak gitu dweh..

     Kembali ke topik.

     Istri gw malah ketawa denger gw curhat kayak gitu. Gw bingung. dia tetp ketawa. Gw makin bingung. Dia tetep ketawa ketawa. Gw ke dapur, istri gw bingung. Ngapain?

Anyway, istri gw bilang, “Jadi selama ini elu masih terkukung pemikiran kalo cinta itu didasarkan pada penghitungan materi? Kasian deh lu. Udah gag jamannya kaleee. Kemana aja?”.

     “Gw nikah sama elu bukan karena butuh materi, Yah. Kalo butuh materi, ngapain gw nikah sama orang yang gag punya apa-apa selain gelar doktergigi di tangan?”

     “Elu dateng modal dengkul doang buat PTT, tapi gw tetep mau kan nikah sama elu? Soalnya yang gw cari cinta, bukan materi. Kalopun ada, itu mah gw anggap bonus aja.”

     Gw keselek ganteng. Ini memang fakta. Ini memang nyata. Apa yang diomongin sama istri gw bener adanya.

     “Yang gw harapin sebenernya kebersamaan keluarga kecil kita. Gw bahagia bisa terpenuhi semua kebutuhan materi gw dan anak. Tapi elu musti tahu, kalo gw lebih bahagia, kalo elu bisa ngasih kebahagiaan yang gag bisa dinilai dengan materi.”

     “Gw butuh suasana hangat ngobrol lepas tanpa topik sama elu. Mengenal elu lebih jauh.Memahami kelebihan dan kekurangan elu, dodol” Tunggu dulu, kenapa jadi ada dodol-nya? Mendadak gw laper dan pengen ngemil..

“Terutama jagoan kecil kita! Jangan sampai dia besar manggil elu dengan sebuatan, Om, Om, lagi” lanjut istri gw.

     “Jadi, kalo menurut elu gw harus gimana? Kalo gw ngelepasin PTT atau praktek swasta gw, elu siap ‘susah’? Penutupan kebutuhan hidup butuh biaya tinggi sekarang ini” tanya gw.

     “Rejeki itu datengnya dari Allah. Kayak orang gag berTuhan aja elu, ni, Yah. Yakin amat elu kalo elu berhentiin salah satu pintu uang tuh, kita bakal susah? Maksud lo apa? Mo ngedahuluin takdir?” istri gw emosi dikit. Gw menciut. Gwmulai takut. Serem.

     Kata-kata istri gw membekas dalam dalam diri gw.

     Iya juga, pikir gw. Maksud gw apa? Disinilah gw menyadari PERSAMAAN DAN HUBUNGAN antara REJEKI dengan CINTA.

duit cinta

     Rejeki itu udah diatur kok sama Sang Maha Pemberi Rejeki. Itu adalah bukti Cinta-Nya kepada umat-Nya. rejeki yang gw dapat selama ini, murni hasil tanda cinta Allah kepada gw. Betapa Allah mencintai gw dan gag mau melihat gw gag bisa memenuhi apa yang gw inginkan atau butuhkan.

     Allah mencintai gw dengan terus memberikan rejeki-Nya tanpa henti dan tanpa mengharapkan balasan. Disiapkannya dari mulai lahir sampai mati. Diyakinkannya gag akan tertukar dengan yang lain.

     Dan gw berani-beraninya gag mempercayai dan meyakini hal tersebut? Gw kecewa sama diri gw sendiri..

Bagian 2..