Ngedot: Baik atau Buruk?

Do-you-need-a-pacifier-for-child

Ngedot merupakan salah satu kebiasaan yang perlu mendapat perhatian. Perlu perjuangan bagi beberapa orang tua untuk ngelepas anak mereka dari kebiasaan ngedot ini.

Penggunaan dot untuk anak emang masih dalam proses perdebatan, seiring dengan pro dan kontra yang ditimbulkan, seperti yang dijelaskan pada penelitian yang diterbitkan dalam Academy of General Dentistry’s (AGD) clinical, peer-reviewed journal edisi Januari/ Februari.

Enggag seperti mitos yang berkembang di masyarakat kalo ngedot itu selalu “buruk”, ada beberapa hal positif yang didapat dari ngedot. Pertama, ngedot bisa mengurangi dan atau mencegah terjadinya sudden infant death syndrome (SIDS) alias kematian bayi mendadak.

Soalnya, ngedot mencegah bayi tidur terlalu nyenyak yang menjadi penyebab SIDS. Ngedot membuat bayi melakukan gerakan menghisap yang menjaga mereka pada keadaan tidur yang tidak terlalu lelap.

Kedua, ngedot memberikan rasa nyaman yang dibutuhkan bayi untuk beristirahat dengan baik, sekaligus memenuhi kebutuhan pada fase menghisap bayi.

Tapi, sesuai bahasan sebelumnya ada hal negatif dari ngedot yang perlu mendapat perhatian orangtua.

Ngedot sebaiknya dihentikan apabila bayi telah berumur 2 tahun atau lebih. Kebiasaan ngedot yang terlalu lama diatas umur 2 tahun dapat menimbulkan masalah pada daerah gigi dan mulut. Apalagi kalo kebiasaan ngedotnya ditemenin sama kebiasaan menghisap ibu jari.

Lengkap, kap, kap, efek kurang baik yang didapat.

Penggunaan dot yang terlalu lama lebih dari umur 2 tahun dapat menghambat pertumbuhan tulang rahang bayi, akhirnya menyebabkan kondisi gag ormal dari langit-langit hingga menggangu pertumbuhan gigi geligi saat beranjak gede.

Terdapat hubungan antara ngedot dengan infeksi telinga akut (otitis media)

Ngedot menyebabkan tuba auditorius terbuka secara tidak wajar, memungkinkan sekresi dari tenggorokan menyusup ke telinga tengah. Bakteri yang ada pada sekresi tenggorokan tersebut menyebabkan infeksi pada telinga.

Kalo dibiarin aja, tanpa diperhatikan, nantinya infeksi telinga tersebut memerlukan pemakaian antibiotik jangka panjang, atau yang paling ekstrim, memerlukan tindakan bedah membedah.

Menghentikan kebiasaan ngedot emang gag gampang, tetapi beberapa hal berikut dapat dicoba untuk dilakukan oleh orangtua dalam rangka menghentikan kebiasaan ngedot tersebut.

Coba rendam dot dalam cuka supaya rasanya jadi gag enak. Ato larutan brotowali bisa menjadi alternatif pilihan. Orangtua juga dapat memotong dot supaya bentuknya jadi gag enak buat diisep-isep.

Berikut beberapa tip dari DokterGigiGAUL seputar ngedot:

  • Gunakan dot hanya sampai bayi tertidur. Kalo udah tidur sebisa mungkin lepas dotnya. Supaya gag terlalu tinggi rasa ketergantungan bayi terhadap dot tersebut.
  • Pilih dot dengan disain berlubang untuk memunginkan jalan udara tetap terbuka seandainya dot ketelen sama dedek bayi.
  • Hindari menggunakan dot dengan gantungan tali. Tali tersebut bisa jadi nyekek leher si bayi seandainya dotnya kebawa tidur, karena gerakan yang ditimbulkan saat tidur.
  • Buang dot setelah mengalami robek karena digigit-gigit dan atau setelah tidak digunakan. Jangan dikoleksi atao diberikan ke orang lain.

Oke? Ada yang masih kurang jelas atao ingin ditanyakan? Cari DokterGigiGAUL via Social Media yang ada di bilah sisi blog ini.

Salam hangat,

DokterGigiGAUL

Source link

, , ,

Powered by WordPress. Designed by WooThemes