Archive | Perawatan Cabut Gigi dan Bedah Mulut

Pencabutan [ekstraksi, extraksi] gigi yang sudah tidak bisa dipertahankan, mengalami kelainan [impaksi]. Bedah Minor, Odont, tektomi, Bedah Mulut

Cabut Gigi Mengakibatkan Kematian

Catatan ini, dari satu sisi pandang, mungkin bisa menyebabkan ketakutan untuk melakukan pencabutan gigi pada beberapa orang. Meskipun, dari sisi pandang yang lain, catatan ini bisa lebih menyadarkan MagaHaian, betapa pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut.

 

PERHATIAN!

Jangan melanjutkan membaca catatan ini kalau merasa akan “terpengaruh” negatif soal pencabutan gigi.

Lanjutkan jika dan hanya jika MagaHaian merasa “siap”.

     Pencabutan gigi sebenernya adalah pilihan terakhir yang ditawarkan oleh dokter gigi. Inipun dilakukan setelah doktergigi menilai bahwa gigi yang bersangkutan tidak lagi memungkinkan untuk dilakukan penambalan atau perawatan syaraf.

cabut gigi mati

       Tetapi sayangnya, pencabutan gigi justru menjadi pilihan “utama” masyarakat.

       Pemikiran yang berkembang, kalo gigi yang menyebabkan sakit sudah hilang, penyakit otomatis juga akan hilang.

Walaupun beberapa lebih suka “melihara” sakit gigi yang ada

     Tetapi yang tidak dipikirkan lebih lanjut adalah komplikasi yang mungkin ditimbulkan dari pencabutan gigi.

     Sebelumnya doktegigigaul pernah membhas komplikasi-komplikasi ini. Komplikasi ke mata dan ke syaraf adalah salah duanya.

     Pada dasarnya, pencabutan gigi adalah prosedur bedah kecil yang aman. Tetapi pada beberapa kondisi, hal ini bisa mengarah ke hal yang serius. Salah satunya kematian!

     Kondisi yang menyebabkan hal ini, antara lain:

1. Pasien tidak atau kurang jujur mengenai kondisi kesehatan tubuhnya secara umum.

     Pasien tidak mengetahui secara pasti apakah dirinya menderita penyakit tertentu yang bisa menimbulkan komplikasi pada pencabutan gigi seperti, diabetes, darah tinggi atau jantung. Atau pasien berbohong pada doktergigi -bahwa giginya sedang kumat sakit- agar pencabutan gigi bisa dilaksanakan secepatnya.

     Padahal, gigi yang sedang kumat, mengindikasikan adanya bakteri yang masih aktif dalam bentuk pus [nanah]. Kalo bakteri aktif inibercampur dengan darah, dan tersebar sampai ke jantung, hal ini bisa menyebabkan jantung berhenti bekerja dan menyebabkan kematian

2. Pasien menganggap sepele sakit gigi yang dideritanya.

     Pasien merasa sakit gigi bukan masalah serius, meskipun telah menyebabkan bengkak.

     Padahal bengkak ini adalah nanah yang bisa menyebar ke dalam rongga-rongga yang ada di kepala.

     Beberapa rongga-rongga di kepala seharusnya tidak terisi apapun. Bila rongga yang seharusnya tidak terisi ini, terisi, maka bisa menyebabkan kematian.

3. Pasien menganggap remeh kejadian ikutan setelah ekstraksi.

     Salah satu yang paling fatal adalah perdarahan. Perdarahan yang tidak berhenti setelah 24 jam adalah hal yang serius. Segera berkonsultasi dengan dokter gigi yang melakukan pencabutan apabila hal ini terjadi.

Kehilangan darah dalam jumlah yang banyak bisa berakibat fatal.

     Salah duanya adalah sakit yang tak kunjung padam. Sakit atau nyeri berkelanjutan juga merupakan hal serius yang harus segera dikonsultasikan dengan doktergigi yang melakukan pencabutan.

4. Pasien memaksa doktergigi untuk melakukan pencabutan, atau melakukan “pencabutan” sendiri.

     Meskipun prosedur cabut gigi termasuk prosedur aman, hal ini hanya berlaku apabila dilakukan oleh orang yang tepat dan alat yang tepat.

     Kalau enggag tepat..GAME OVER!

     Doktergigi memiliki pertimbangan tertentu sesuai teori yang diketahuinya, mengenai apakah gigi yang bermasalah bisa dilakukan pencabutan segera atau tidak. Jadi jangan ngeyel kalo doktergigi memutuskan untuk menunda pencabutan gigi.

     Meskipun kasus pencabutan gigi yang berujung kematian masih sangat jarang, tetapi ada satu hal yang pasti, bahwa bukan prosedur cabut giginya sendiri yang menyebabkan kematian. Tetapi hal-hal setelahnya – yang tidak tertangani dengan tepat – yang menyebabkan kematian.

     Jangan ragu dan bimbang kalo kamu merasa ada yang gag beres setelah kamu melakukan pencabutan gigi. Segera berkonsultasi ulang adalah hal yang terbaik dilakukan.

     Lebih baik lagi, kalo kamu gag harus melakukan pencabutan gigi. Hal ini bisa tercapai dengan rutin menjaga kesehatan gigi dan mulut kamu -menyikat gigi minimal 2 kali sehari – dan silaturahmi rutin dengan doktergigi minimal setiap 6 bulan sekali.

Jangan jadikan pencabutan gigi momok yang menakutkan. Cabut gigi kamu bila memang diperlukan, tentunya setelah berkonsultasi secara lengkap dan menyeluruh dengan doktergigi.

Salam Magahaya!

sumber:internet
Baca artikel ini

Gigi Berlubang? Jangan Asal Cabut!

     Kemaren doktergigigaul didatengin pasien perempuan yang pengen cabut gigi. Tapi setelah melakukan pemeriksaaan awal, dokergigigaul memutuskan untuk menunda pencabutan gigi tersebut karena sedang “sakit”, waktu dilakukan tes ketuk.

     Ketuk lindri..

     Sempat terjadi perdebatan panjang dengan pasien tersebut, yang “memaksa” supaya gigi tersebut dicabut aja.

     Alesannya dah gak,gak,gak kuat..gak,gak,gak kuat.. nahan sakitnya lagi.

     Sebenernya,banyak pasien dengan “penyakit” seperti ini. Memaksa untuk dicabut. Soalnya, pada belum tahu, komplikasi apa yang bisa terjadi, kalo memaksakan mencabut gigi yang lagi “sakit”.

Sakit disini, adalah sakit yang terasa waktu dokter gigi melakukan tes ketuk [baca: perkusi] dan tes tekan [baca: palpasi].

     Tes ketuk dan tekan ini dilakukan untuk berbagai tujuan. salahsatunya untuk mengetahui apakah ada rasa sakit yang timbul pada saat dilakukannya tes ini.

     Rasa sakit yang timbul pada saat dilakukan tes ketuk dan tekan ini, pada umumnya menandakan adanya kelainan di ujung akar gigi yang bersangkutan atau sekitar gigi yang bersangkutan. Dalam hal ini apakah ada pembentukan pus [baca: nanah] atau tidak.

     Pus atau Nanah yang ada ini bisa menghalangi bius, yang nantinya disuntikkan untuk dapat berfungsi sebagaimana maksudnya.

     Suntik bius yang dilakukan bertujuan supaya pasien gag ngerasain sakit, waktu lagi dieksekusi.

     Kalo biusnya gag bekerja, ya percuma aja dibius.

     Terus, kalo ada pembentukan nanah di ujung akar atau sekitar gigi, nanah ini bisa “keluar” waktu giginya “berhasil” dicabut. Dan nanah ini bisa terbawa air liur, dan tertelan. Masuk sampai ke organ dalaman perut.

Ujung-ujungnya..bermasalah..

     Makanya, lebih baik menunda dulu pencabutan dan mengonsumsi obat yang diperlukan. Supaya, kalopun ada nanah atau proses penyakit yang sedang berlangsung, telah diatasi terlebih dahulu.

     Jadi, bius yang disuntikkan bisa bekerja atau berjalan total -melaksanakan tugasnya dengan baik- sehingga pencabutan gigi tidak menimbulkan sakit.

     Juga, pus [baca: nanah] yang mungkin ada, juga telah hilang total, dan tidak menyebabkan komplikasi pada organ dalaman, bila sampai tertelan, baik sengaja maupun tidak..

     Dokter gigi bekerja berdasarkan prosedur tetap yang telah ada. Dan semua bertujuan demi kenyamanan kedua belah pihak. Pasien dan dokter gigi.

     Percayalah..percayalah..

     Jangan memaksakan asal cabut gigi yang sedang sakit, semata-mata hanya untuk membebaskan diri dari siksaan sakit. Bisa-bisa, bukan sakitnya hilang, malah ada tambahan sakit di kemudian waktunya..

     “Nurut” pada saran doktergigi, akan mencegah hil-hil yang tidak diangankan.

     Selalu berkonsultasi dengan dokter gigi untuk hal yang terbaik untuk tindakan pencabutan gigi.

     Salam MagaHaya!

sumber: internet

Catatan Gigi-tal Kesehatan Gigi Mulut

Baca artikel ini

Gigi Anak Goyang? Jangan Cabut Sembarangan!

Banyak orang tua datang ke puskesmas untuk meminta gigi anaknya dicabut, karena sudah goyang, atau tinggal sisa akar saja.

     Meskipun beberapa pulang dengan rasa puas [tanpa lemas], namun banyak dari mereka yang pulang dengan rasa kecewa karena anaknya tidak lulus fit and proper test Dokter Gigi Gaul untuk dilakukan pencabutan.

     Lho, mau cabut gigi aja pake fit and proper test? Ini mau cabut gigi apa pemilihan ketua KPK?

     Tenang dulu. Uji kelayakan ini berhubungan erat dengan masa depan si anak. Kalo uji kelayakan ini diabaikan, bisa dipastikan nantinya si anak akan mengalami ketidakharmonisan gigi yang selanjutnya bisa menimbulkan banyak masalah, baik kesehatan gigi mulut maupun kesehatan tubuh.

     Doktergigigaul jelaskan panjang kali lebarnya ya..

Begini.

     Kegoyangan gigi sulung gag selalu jadi pertanda bahwa gigi tersebut harus dicabut, karena gigi penggantinya akan tumbuh.  Kegoyangan gigi sulung dapat disebabkan karena adanya nanah di sekitar jaringan ikat/ pendukung giginya [baca: abses periodontal], yang menyebabkan ikatan antara gigi dengan tulang rahang terganggu untuk sementara.

Abses gigi

     Pada kasus ini, pilihan terapinya bukan pencabutan, tapi menghilangkan kumpulan nanah tersebut. begitu nanah hilang, giginya akan menguat kembali di tulang rahang.

     Penyebab kegoyangan lain, bisa karena trauma. Bukan pengalaman buruk, tapi semacam benturan fisik antara gigi dengan sesuatu [tembok, lantai atau benda keras lain sampai berantem-beranteman]. Dan si anak gag [gag mau] ngasih tahu orangtuanya. Jadi si orang tua menganggap gigi “goyang” tersebut harus dicabut. Ada 2-3 kasus yang pernah doktergigi gaul temuin yang seperti ini.

Meskipun memang salah satu penyebab kegoyangan adalah karena sebab alamiah. Pergantian gigi.

Salah satu fungsi gigi sulung yang vital adalah sebagai pemandu gigi permanen/ tetap/ dewasa keluar ke permukaan. Gigi permanen akan mengikis akar gigi sulung. Proses pengikisan ini juga yang menyebabkan si gigi sulung jadi goyang. Goyang gayung.

 

 

Pergantian Gigi

     Meskipun demikian, bukan berarti kalo gag nampak benjolan nanah atau riwayat trauma yang menandakan bahwa gigi tersebut memang hendak berganti, sebaiknya juga jangan langsung dicabut sebelum berkonsultasi dengan dokter gigi. Sebaiknya tunggu sampai si gigi permanen muncul dan nyata wujud fisiknya, baru dilakukan pencabutan.

“Apa gag jelek kalo giginya bertumpuk? Nanti giginya gag akan rapih dong?”

     Ini dua pertanyaan yang selalu keluar setelah doktergigigaul tidak meloloskan keinginan untuk melakukan pencabutan gigi sulung karena tidak layak.

     Sebenernya enggak juga. Memang mungkin kelihatannya aneh kalo gigi bertumpuk-tumpuk dan nampak tidak rapih. Tapi justru itu yang akan menjadikan gigi anak rapih pada saatnya tiba. Karena telah melalui prosedur atau tahapan yang seharusnya.

     Mengikuti prosedur kadang kurang menyenangkan, tetapi setidaknya menghindari hil-hil yang kurang diangankan.

Jadi jangan melakukan pencabutan gigi anak sembarangan. Keinginan untuk mendapatkan gigi anak dengan susunan yang rapih justru bisa berbalik. Gigi anak malah jadi berantakan atau ginsul. Berkonsultasilah segera dengan dokter gigi apabila gigi anak mengalami kegoyangan, untuk mendapatkan terapi atau pilihan pengobatan terbaik, dan gigi anak bisa rapih sesuai keinginan.

Salam MagaHaya!

sumber: internet

Catatan Gigi-tal Kesehatan Gigi Mulut

Baca artikel ini

Cabut Gigi Bisa Pengaruhi Syaraf?

     Kali ini doktergigigaul mau menjelaskan catatan berdasarkan pertanyaan salah satu MagaHaian yang udah khilaf konsultasi via e-mail ke doktergigigaul via tab Konsul Gratis.

 

Pandai memanfaatkan kesempatan..

     MagaHaian yang selanjutnya doktergigigaul samarkan namanya menjadi Aar ini menanyakan,

Salam Dok. Saya punya masalah dengan gigi belakang saya yang posisinya tidak tegak tapi miring dan bolong. Maksud saya ingin di cabut. Apa ada masalah terhadap syaraf yang lain?

Syaraf yang lain tidak meliputi: Syaraf Azhari, Syaraf Sechan atau Syaraf Sinclair..

     Meskipun sebelumnya doktergigigaul pernah ngebahas mengenai Pengaruh Pencabutan Gigi Terhadap Mata, tetapi hal yang ditanyakan ini menyangkut hal lain yang “serupa tapi tak sama”

Oke, begini penjelasannya.

     Gigi “miring” ini biasanya karena dua hal. Satu ada gigi di depannya yang dicabut tapi tidak diganti, atau karena giginya kekurangan ruangan, sehingga tumbuhnya miring. Biasanya hal ini terjadi pada gigi bungsu [terakhir].

     Sayang tidak diketik [baca: diberitahukan] dengan spesifik, gigi atas atau bawah yang sedang dikonsulkan ini. Kalau berdasarkan pengalaman, biasanya gigi yang dimaksud adalah gigi bawah, karena jarang ada pasien yang bisa dengan leluasa melihat gigi atasnya berada dalam keadaan miring. Jadi kita akan fokus terhadap gigi belakang bawah pada catatan ini.

     Gigi geraham bawah, terutama gigi bungsu, biasanya memiliki sejumlah penyulit.

     Akar giginya biasanya bengkok, yang bisa menyebabkan patah, pada saat pencabutan, atau dekat dengan persyarafan.

Syaraf yang dimaksud adalah syaraf yang bertanggungjawab terhadap pembukaan dan penutupan mulut,

     Kalau sampai syaraf ini “terganggu” selama proses pencabutan, maka si pasien akan mengalami kesulitan untuk membuka dan atau menutup mulutnya selama beberapa bulan ke depan.

     Iya, serius.

     Bukannya menakut-nakuti, tapi doktergigigaul membicarakan kemungkinan terburuk yang “mungkin” terjadi.

     Jadi, untuk pertanyaan diatas, apakah pencabutan gigi bisa mempengaruhi syaraf? Jawabannya, mungkin.

     Tapi itu terjadi jika dan hanya jika tidak ada foto Ro gigi yang dapat menentukan apakah syaraf tersebut bisa terganggu selama pencabutan gigi atau tidak.

     Maka, sebaiknya sebelum pencabutan gigi, dilakukan foto Ro gigi yang bersangkutan dulu. Tidak hanya sebatas pada gigi geraham bawah saja, tetapi sebaiknya semua gigi yang akan dilakukan pencabutan.

     Minimal kalau ada akar yang bengkok dan kemungkinan patah waktu pencabutan bisa disiasati.

     Memang tidak semua daerah di Indonesia sudah terfasilitasi Rontgen gigi. Biasanya minimal, setiap rumah sakit ibukota propinsi sudah memiliki fasilitas ini. Kalau kamu ngerasa gak yakin dan mau cari aman, minta dokter gigi kamu mengkonsul atau merujuk kamu ke RS tersebut.

     Yang penting, jangan semakin takut untuk melakukan pencabutan gigi. Kalau gigi rusak tidak dicabut, justru akan menimbulkan masalah yang lebih besar.

Salam MagaHaya!

sumber: internet

Catatan Gigi-tal Kesehatan Gigi Mulut

Baca artikel ini

Gigi Geraham Pertama – Gigi Penuh Masalah?

Ada seorang bapak dateng ke Puskesmas untuk mencabut gigi anaknya yang tinggal sisa akar. Anaknya berumur lebih kurang 9-10 tahunan. Katanya, gigi tersebut sering kumat dan bikin sang anak jadi terganggu makan dan tidurnya.

     Makan gag enak, tidur gag nyenyak. [Hmm, ni sih kayaknya bukan sakit gigi, tapi kayaknya gara-gara penyakit malarindu: memikirkan si jantung hati..]

     Gigi si anak adalah gigi nomor 6 dari depan, atau gigi geraham [baca: molar] tetap pertama, di mulut bawah.

Nanti, kapan gigi penggantinya tumbuh lagi, Dok?“, tanya si bapak.

Gak ada lagi gigi penggantinya, Pak. Sayangnya, anak bapak bakalan ompong sampe tua” jawab doktergigigaul penuh pesona.

 

Si Bapak terhenyak.
Doktergigigaul jadi ngerasa gak enak.
Si Bapak meraung-raung.
Doktergigigaul nyumpel mulut si Bapak pake gayung.

Tidak ada ibu yang tersakiti dalam adegan ini.

Mungkin ada beberapa orangtua yang punya pertanyaan yang sama [dengan reaksi yang berbeda] dengan si Bapak.

Kok bisa gitu ya? 
Padahal kan, gigi tersebut baru pertama kali dicabut? 
Harusnya masih ada gigi pengganti yang keluar setelahnya?

     Gini loh,gigi susu itu jumlahnya 20 gigi. Sedangkan gigi tetap jumlahnya ada 32 gigi. Secara logika, ada 12 gigi tetap yang tumbuh tanpa menggantikan gigi susu.

     Gigi-gigi  tersebut adalah 3 gigi geraham di mulut atas sebelah kanan, di mulut atas sebelah kiri, di mulut bawah sebelah kanan dan di mulut bawah sebelah kiri.


     Gigi geraham tetap dibagi jadi 3. Salah satunya gigi geraham tetap pertama. Salah dua dan salah tiga-nya, gigi geraham tetap kedua dan ketiga.

Jadi kalo geraham tetap pertama rusak, ya gag ada gigi penggantinya.

     Si korban akan mengalami keompongan seumur hidup..

SE-U-MUR HI-DUP!

     Sebenernya menurut pengalaman pribadi doktergigigaul nanganin pasien di Puskesmas, gigi geraham tetap pertama adalah gigi yang paling sering mengalami masalah. Terutama di mulut bawah. Dan umumnya, berakhir dengan pencabutan.

     Bukan karena takdirnya bermasalah, tapi karena terkondisikan.

     Letaknya yang dekat dengan kelenjar liur, membuat bakteri mudah untuk mengolah sisa makanan yang tidak terbersihkan dengan baik, menjadi lobang di mahkota gigi, karena air liur termasuk salah satu pensupplai kebutuhan bakteri untuk melakukan hal tersebut.

     Kemudian bentuk permukaan giginya yang berparit [baca: fisur] dalam menyebabkan sisa makanan mudah terjebak didalamnya dan sulit terbersihkan dengan baik oleh sikat gigi.

     Tetapi yang lebih penting, bukan gigi geraham tetap pertama ini gigi yang penuh masalah, tetapi kitalah yang membuatnya nampak penuh masalah.

     Mari hindarkan masalah pada gigi geraham tetap pertama ini, untuk menghindarinya “hilang” terlalu cepat, ataupun hilang. Karena gigi geraham tetap pertama ini merupakan pembantu fungsi pengunyahan, untuk menghaluskan makanan yang masuk ke dalam lambung.

Bila gigi geraham sehat dan tidak bermasalah, kesehatan tubuh yang baik juga akan tercapai!

     Sayangi diri kamu, sayangi anak, ponakan, tetangga yang masih muda belia! Suruh pihak yang berkepentingan buat mantengin terus MagaHaya dan rajin kontrol ke dokter gigi per 6 bulan sekali untuk konsultasi dan melakukan tindakan yang diperlukan untuk menjaga gigi geraham tetap pertama ini. Jauhkan gigi geraham pertama dari anggapan, gigi penuh masalah.

Salam MagaHaya!

sumber: internet

 

Baca artikel ini

Kenapa Gigi Hilang Harus Diganti?

     Banyak sekali orang yang sudah kehilangan giginya, entah karena dicabut atau karena tinggal sisa akar yang [hampir] tertutup gusi. akibat gigi berlubang Tapi masih sedikit yang sadar untuk mengganti gigi yang hilang tersebut dengan alamat gigi palsu

     Hal ini disebabkan, karena orang-orang pada umumnya tidak merasa ada yang mengganggu dengan hilangnya salah satu atau salah dua [dan seterusnya] organ tubuh tersebut.

     Padahal, banyak hal buruk yang bisa ditimbulkan dari kehilangan gigi tersebut.

     Jadi begini. Gigi sebenernya terus tumbuh selama kita hidup. Yang atas tumbuh ke arah bawah dan ke depan. Yang bawah tumbuh ke arah atas dan ke depan.

     Tapi hal ini tidak terlihat, karena pertumbuhan gigi gigi atas terhambat oleh gigi bawah dan begitupun sebaliknya. Dan pergerakan gigi ke depan terhambat oleh gigi yang ada di depannya.

     Coba perhatikan, gigi anak yang tumbuh pertama adalah gigi bagian depan. Hal ini termasuk satu dari sekian “rancangan sempurna” sang Pencipta.

Keren abis, secara Kedokteran Gigi.

     Kalo gigi belakang yang tumbuh duluan, bisa dipastikan gigi kamu gag akan serapih saat ini. Gigi belakang akan maju ke depan karena belum ada yang menahannya.

     Nah, kembali ke permasalahan awal. Kalo ada gigi yang hilang, misalnya gigi geraham bawah, maka bisa dipastikan, gigi atas akan “turun” dan memanjang ke bawah, dan gigi belakang dari lokasi yang hilang akan miring ke depan.

     Memang gag akan langsung terlihat. Tergantung usiadan kondisi kesehatan umum masing-masing orang, prosesnya bisa  sampai berbulan-bulan baru kelihatan. Tapi bukan itu inti permasalahannya.

     Masalah yang sesungguhnya, kalau gigi-gigi yang dimaksud telah mengalami perubahan posisi, maka otomatis, gigi lainnya akan berusaha mencari posisi pertemuan baru.

Proses ini menyebabkan sendi rahang juga terganggu. Sendi rahang akan terasa sakit yang bisa menimbulkan rasa sakit di kepala.

     Begini lho. Gigi atas dan bawah seharusnya bertemu secara bersamaan pada saat gerakan, entah mengunyah atau berbicara. Bahkan pada saat diampun sejatinya demikian. Karena otot selalu bekerja dalam keadaan seimbang. Keadaan ini diistilahkan gigitan harmonis.

     Kalau gigi telah mengalami perubahan posisi, gigitan harmonis ini tidak akan bisa tercapai. Tetapi otot akan berusaha mendapatkan keadaan gigitan harmonis ini. Gag peduli bagaimanapun caranya.

     Karena sebagian dari gigi [baca: enamel atau email] adalah bagian terkeras tubuh yang tidak akan banyak terganggu, maka bagian lain yang lebih ‘kurang keras’ harus berkorban [atau lebih tepatnya: DIKORBANKAN]

Dalam hal ini, sendi rahang.

     Dan kembali ke pembahasan sebelumnya, perubahan posisi ‘terpaksa’ dari sendi rahang ini menimbulkan masalah.

     Itu masalah pertama. Masalah selanjutnya, tulang rahang pada lokasi gigi yang hilang juga menjadi korban.

     Sebelumnya, tulang rahang dibantu oleh gigi dalam menerima beban atau daya tekan dari pengunyahan. Tapi begitu gigi tersebut hilang, maka tulang rahang akan langsung menerima beban kunyah tersebut. Kalau kamu pikir daya tersebut gag seberapa kamu salah.

     Tekanan tersebut menyebabkan pengurangan tulang. Hal ini berdasarkan hukum ke-aus-an. Benda yang mengalami gesean terus menerus dengan barang lain akan mengalami ‘kehilangan’. Berkurang beratnya atau berkurang kepadatannya atau berubah volumenya.

Contoh ekstrim: Ambil wortel dan mulai memarut. Wortel akan menjadi semakin kecil karena mengalami aus. Percuma mau dikasih minum juga.

     Nah tulang yang mengalami aus karena bergesekan dengan makanan yang dibantu daya kunyah, semakin lama akan menjadi semakin berkurang volumenya. yang tadinya tinggi akan menjadi rendah.

     Kalo tulang sudah menjadi rendah, otomatis rongga akibat gigi yang hilang menjadi semakin besar. Makin besar lobang maka semakin banyak pipi yang ‘tersedot ‘ ke dalam karena tidak lagi tertahan oleh tulang. Makin banyak yang tersedot, maka pipi akan terlihat peot atau KEMPOT.

Didi Kempot

     Masalah yang ketiga, tentu saja penampilan. Kalau yang hilang gigi belakang, gag begitu mempengaruhi penampilan, Tapi kalo yang hilang gigi depan..

B-E-N-C-A-N-A

     Lagi diem, senyum simpul gantengnya atau cantiknya 9/10. begitu senyum, ada gigi depan yang ompong? Langsung turun passing grade. -3/10!

     Selain itu fungsi bicara akan terganggu. Akan timbul kesulitan untuk mengucapkan huruf-huruf s, v, f dan r. Akan aneh mendengar orang yang gigi depannya hilang mengucapkan kalimat VESFA RUSAK.

Jadi usahakan mengganti gigi hilang kamu. Jangan tunggu sampai masalah-masalah tersebut datang. Segalanya bisa jadi udah terlambat.

Yang terlambat, gag boleh masuk kelas *abaikan*

     Meskipun nantinya makan menggunakan gigi palsu gag akan seenak sewaktu seperti dengan gigi asli, minimal kamu mencegah masalah yang lebih serius muncul.

 Lagipula, mending Gigi Palsu, ato mending Alamat Palsu? [dimana..dimana..dimana..?]

Salam MagaHaya!

sumber: internet

Catatan Gigi-tal Kesehatan Gigi Mulut

Baca artikel ini

Mengatasi Gigi Ginsul – Cabut atau Rawat?

Terinspirasi dari posting artikel salahsatu peserta SAYEMBARA MAGAHAYA!, kali ini @doktergigigaul akan membahas tentang ginsul. Supaya MagaHaian mengetahui lebih dalam segala sesuatu yang perlu diketahui tentang ginsul.

     Gak ada yang bisa menjelaskan secara pasti dan ilmiah darimana datangnya istilah ginsul. Beberapa ada juga yang menyebutnya gingsul.

   

Istilah ilmiah untuk gigi ini adalah ektopik.

     Ektopik ini sebenarnya artinya “berada diluar“, dan seyogyanya dapat terjadi pada gigi manapun, dimanapun [rahang atas ataupun bawah].

     Bahkan istilah ektopik digunakan juga untuk kehamilan, dimana embrionya berada “di luar” janin. [Ini urusan dokter “mulut bawah” bukan “mulut atas]

     Kejadian paling sering menimpa gigi taring atau kaninus, karena gigi ini adalah gigi yang -secara teoritis- tumbuh kedua dari terakhir [gigi yang tumbuh paling akhir adalah geraham besar ke-3 a.k.a. gigi bungsu a.k.a. GIGI TERAKHIR (-.-“) ] yang sering kekurangan “ruangan” untuk tumbuh normal.

     Kekurangan ruangan untuk tumbuh normal ini  disebabkan oleh berbagai hal:

  • Karena perpaduan dari gigi besar ayah dengan mulut mungil ibu [atau sebaliknya]  
  • Pernikahan Pencabutan dini [dicabutnya gigi susu sebelum gigi penggantinya tumbuh],
  • Kurangnya konsumsi makanan keras yang dapat merangsang pertumbuhan rahang
  • Kebiasaan buruk bernafas lewat mulut yang dapat “menyempitkan” rahang
  • atau semata-mata, NAAS [yang terakhir ini asli ngarang,gag usah dipercaya]. Lebih baik percaya “dan lain-lain“.

     Buat beberapa orang, ginsul sering dianggap sesuatu yang buruk. Mengganggu penampilan, mengganggu bicara, mengganggu pengunyahan, kutukan atau lainnya. Dan itu sama dengan, harus mengorbankan gigi tersebut dengan melakukan.. pencabutan.

Sayangnya, itu bukan pilihan terbaik untuk mengatasi permasalahan gigi ginsul

Kenapa gag disarankan untuk mencabut gigi ginsul?

    Pertama, gigi taring adalah gigi yang berada pada sudut mulut.

     Maksudnya gigi ini adalah terletak pada sudut lengkung pada muka.

     Apabila kamu melakukan pencabutan, muka kamu akan mengalami pengempotan [#nyari-nyari di Kamus Besar Bahasa Indonesia] dan muka kamu akan terlihat “tua“.

Terus jadi latah kayak Mak Ijah.[#nyenyong ala Adi Bing Slamet]

Kecuali kamu gag keberatan dengan hal ini, cabut gigi ektopik  tersebut!

     Kedua, gigi taring adalah gigi yang berfungsi untuk menghisap darah merobek dan menyobek makanan keras agar lebih mudah dilumatkan gigi geraham besar.

     Kalau gigi taring ini hilang, fungsinya “terpaksa” diambil alih oleh gigi geraham kecil.

Tapi seperti halnya pekerjaan yang dilakukan oleh alat yang tidak tepat, hasilnya tidak akan baik. 

     Gigi ginsul sebaiknya dirawat.

     Dirawat ini pengertiannya luas. Dapat menggunakan kawat gigi permanen untuk mengembalikan posisinya ke “dalam” lengkung rahang.

     Dalam hal ini mungkin diperlukan pengorbanan gigi geraham kecil pertama, atau dilakukan ekspansi [pengembangan] rahang.

     Atau dengan melakukan pembersihan dan perawatan gigi yang tepat dengan alat yang tepat.

     Intinya, ginsul bukan sesuatu hal yang perlu dikhawatirkan.

     Ada banyak kelebihan [iya, maksudnya LEBIH keluar dari gigi yang laen, kan?] yang bisa diambil dari kondisi ini.

 

     Banyak selebrita yang tampil beda dan makin menarik dengan gigi ginsul. AaGym, Chelsea Olivia dan Putri Titian adalah salah tiga contohnya.[yang berarti nilainya 7]

Lebih eye catching.

Yang penting jangan menyegerakan dicabut, menyegerakan pemasangan kawat gigi permanen, sebelum berkonsultasi dengan dokter gigi.

Apalagi melakukan hal tersebut bukan di dokter gigi!

Sementara, cukup dengan melakukan perawatan kesehatan gigi yang baik dan benar, untuk menghindari masalah akibat ginsul di kemudian hari.

Salam MagaHaya!
sumber: internet

Catatan Gigi-tal Kesehatan Gigi Mulut

Baca artikel ini

Cabut Gigi Bikin Mata Rusak?

Banyak pasien Dokter Gigi Gaul yang menanyakan, apakah benar pencabutan gigi bisa bikin mata jadi rusak? Atau, apa bener, cabut gigi atas bisa ngaruh ke kerusakan mata?

     Hubungan pencabutan gigi ke kerusakan mata sebenernya bisa dibilang, antara ada dan tiada [ya, mirip lagunya siapa ya, lupa 🙂 ]. Tetapi,  pendapat atau cerita yang mengatakan, mata saya langsung bermasalah [jadi rabun, jadi berdenyut] setelah cabut gigi, lebih ke arah mitos.

Kalo orang bule nyebutnya, urban legend. [jiahh, bule gitu loh!]

     Soalnya tidak ada persyarafan langsung dari gigi yang mengarah ke mata. Tetapi, karena keseluruhan saraf “bisa saling berhubungan“, maka kemungkinanitu jadi “ada“.

Selain syaraf yang berhubungan, ada suatu keadaan yang namanya infeksi fokal [focal infection].

     Dalam bahasa awam, kurang lebih artinya, terjadinya infeksi di suatu bagian tubuh yang berasal dari organ yang letaknya berjauhan. Misalnya sinusitis [peradangan rongga sinus di antara hidung dan rongga mulut] akibat dari infeksi yang terjadi pada ujung akar gigi.

     Nampaknya aneh, tapi bisa terjadi.

     Nah, ada kemungkinan, kuman yang menyebabkan infeksi pada gigi terbawa oleh aliran darah [yang mengalir keseluruh bagian tubuh], karena tindakan pencabutan, dan sampai ke mata. Contohnya pada kasus seperti di artikel sahabat MagaHaian yang satu ini.

     Dan bukan hanya mata, jantung, ginjal dan lain sebagainya bisa terkena “infeksi jauh” ini.

Kadang sugesti juga berperan penting. Selama kamu yakin pencabutan gigi yang kamu lakukan tidak akan menyebabkan kerusakan mata, maka hal itu insya Allah tidak akan terjadi.

     Hey, jangan jadi takut cabut gigi ya. Rugi kalo takut berurusan dengan dunia pergigian. Coba baca artikel ini.

Pencabutan gigi, akan selalu dilaksanakan dengan prosedur tetap keselamatan yang telah ada.

Bila kamu masih ragu, coba tanyakan pada dokter gigi kamu. Mungkin penjelasannya lebih baik penyampaiannya daripada versi Dokter Gigi Gaul 😀

Bukan pencabutan gigi yang menyebabkan “kerusakan” mata, tetapi faktor-penyertanya-yang-ada-lah yang harus bertanggung jawab.

Salam MagaHaya!

sumber: internet

Baca artikel ini

Selalu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan profesional offline untuk menangani masalah kesehatan yang sedang dialami. Jangan bertindak tidak sesuai saran tenaga kesehatan profesional hanya karena sesuatu informasi kesehatan yang dibaca di situs ini.

dokter gigi, blog dokter gigi, blog kesehatan gigi, blog kedokteran gigi, kedokteran gigi, kedokteran gigi mulut, buku kedokteran gigi, penyakit mulut, ilmu penyakit mulut,poster kesehatan gigi dan mulut, makalah kesehatan gigi dan mulut, leaflet kesehatan gigi dan mulut, kuesioner kesehatan gigi dan mulut,kti kesehatan gigi dan mulut,kesehatan mulut dan gigi,kesehatan gigi dan mulut ppt,kesehatan gigi dan mulut pdf,kesehatan gigi dan mulut pada ibu hamil,kesehatan gigi dan mulut pada anak,kesehatan gigi dan mulut,cara menjaga kesehatan gigi dan mulut,manfaat menjaga kesehatan gigi dan mulut,materi kesehatan gigi dan mulut,penyuluhan kesehatan gigi dan mulut ppt,penyuluhan kesehatan gigi dan mulut pada lansia,penyuluhan kesehatan gigi dan mulut pada anak,penyuluhan kesehatan gigi dan mulut,pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut,pentingnya kesehatan gigi dan mulut,pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut,pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut,pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut,menjaga kesehatan gigi dan mulut, materi penyuluhan kesehatan gigi dan mulut, artikel tentang kesehatan gigi dan mulut, artikel kesehatan gigi dan mulut lansia,balai kesehatan gigi dan mulut makassar,booklet kesehatan gigi dan mulut,bpjs kesehatan gigi dan mulut,buku kesehatan gigi dan mulut,bulan kesehatan gigi dan mulut,buruknya kesehatan gigi dan mulut,cara menjaga kesehatan gigi dan mulut lansia,cara menjaga kesehatan gigi dan mulut pada ibu hamil,cerita kesehatan gigi dan mulut,contoh kesehatan gigi dan mulut,contoh makalah kesehatan gigi mulut,d3 kesehatan gigi dan mulut unair,data kesehatan gigi dan mulut menurut who,data kesehatan gigi dan mulut nasional,definisi kesehatan gigi dan mulut ebook download,definisi kesehatan gigi dan mulut menurut para ahli,definisi kesehatan gigi dan mulut menurut who,dinas kesehatan gigi dan mulut bandung,ebook kesehatan gigi dan mulut,edukasi kesehatan gigi dan mulut,epidemiologi kesehatan gigi dan mulut,esai kesehatan gigi dan mulut,evaluasi kesehatan gigi dan mulut,flipchart kesehatan gigi dan mulut,formulir kesehatan gigi dan mulut,forum kesehatan gigi dan mulut,fungsi kesehatan gigi dan mulut,gambar kesehatan gigi dan mulut,gambaran kesehatan gigi dan mulut,gangguan kesehatan gigi dan mulut,gangguan kesehatan gigi dan mulut pada ibu hamil,hari kesehatan gigi dan mulut,hari kesehatan gigi dan mulut dunia,hari kesehatan gigi dan mulut nasional,hari kesehatan gigi dan mulut sedunia,hubungan kesehatan gigi dan mulut dengan perilaku,ibu hamil dan kesehatan gigi mulut,indikator kesehatan gigi dan mulut masyarakat,indikator kesehatan gigi dan mulut menurut who,indikator kesehatan gigi dan mulut terbaru,indikator kesehatan gigi dan mulut who,indikator kesehatan gigi dan mulut yang terbaru,jeruk nipis untuk kesehatan gigi dan mulut,jurnal kesehatan gigi dan mulut anak,jurnal kesehatan gigi dan mulut anak pdf,jurnal kesehatan gigi dan mulut masyarakat,jurnal kesehatan gigi dan mulut pada anak pdf,jurnal kesehatan gigi dan mulut pada ibu hamil,jurnal kesehatan gigi dan mulut pada lansia,kader kesehatan gigi dan mulut,karangan kesehatan gigi dan mulut,kasus kesehatan gigi dan mulut,kebijakan kesehatan gigi dan mulut,kegiatan kesehatan gigi dan mulut,kegiatan kesehatan gigi dan mulut di puskesmas,kesehatan gigi dan bau mulut,kesehatan gigi dan mulut,kesehatan gigi dan mulut adalah,kesehatan gigi dan mulut adalah menurut who,kesehatan gigi dan mulut adalah pdf,kesehatan gigi dan mulut anak,kesehatan gigi dan mulut anak berkebutuhan khusus,kesehatan gigi dan mulut anak di indonesia,kesehatan gigi dan mulut anak pdf,kesehatan gigi dan mulut anak powerpoint,kesehatan gigi dan mulut anak ppt,kesehatan gigi dan mulut anak sekolah,kesehatan gigi dan mulut anak usia sekolah,kesehatan gigi dan mulut balita,kesehatan gigi dan mulut dalam pandangan islam,kesehatan gigi dan mulut depkes ri,kesehatan gigi dan mulut di indonesia,kesehatan gigi dan mulut di indonesia pdf,kesehatan gigi dan mulut di puskesmas,kesehatan gigi dan mulut ibu hamil,kesehatan gigi dan mulut indonesia,kesehatan gigi dan mulut jurnal,kesehatan gigi dan mulut jurnal pdf,kesehatan gigi dan mulut lansia,kesehatan gigi dan mulut liputan6,kesehatan gigi dan mulut makalah,kesehatan gigi dan mulut masyarakat,kesehatan gigi dan mulut masyarakat indonesia,kesehatan gigi dan mulut menurut depkes ri,kesehatan gigi dan mulut menurut para ahli,kesehatan gigi dan mulut menurut who,kesehatan gigi dan mulut merupakan,kesehatan gigi dan mulut pada anak,kesehatan gigi dan mulut pada anak berkebutuhan khusus,kesehatan gigi dan mulut pada anak jurnal,kesehatan gigi dan mulut pada anak pdf,kesehatan gigi dan mulut pada anak sd,kesehatan gigi dan mulut pada anak sekolah,kesehatan gigi dan mulut pada anak usia dini,kesehatan gigi dan mulut pada anak usia sekolah,kesehatan gigi dan mulut pada balita,kesehatan gigi dan mulut pada ibu hamil,kesehatan gigi dan mulut pada ibu hamil pdf,kesehatan gigi dan mulut pada lansia,kesehatan gigi dan mulut pada lansia pdf,kesehatan gigi dan mulut pada lansia ppt,kesehatan gigi dan mulut pada masa kehamilan,kesehatan gigi dan mulut pada penderita dm,kesehatan gigi dan mulut pada remaja,kesehatan gigi dan mulut pada usia lanjut,kesehatan gigi dan mulut pdf,kesehatan gigi dan mulut power point,kesehatan gigi dan mulut ppt,kesehatan gigi dan mulut remaja,kesehatan gigi dan mulut sangat penting,kesehatan gigi dan mulut secara umum,kesehatan gigi dan mulut untuk anak,kesehatan gigi dan mulut untuk ibu hamil,kesehatan gigi dan mulut youtube,kesehatan gigi mulut,kesehatan gigi mulut,kesehatan gigi mulut anak,kesehatan gigi mulut ibu hamil,kesehatan gigi mulut pada ibu hamil,kesimpulan kesehatan gigi dan mulut,kliping kesehatan gigi dan mulut,kondisi kesehatan gigi dan mulut indonesia,konseling kesehatan gigi dan mulut,konsep kesehatan gigi dan mulut,konsultasi kesehatan gigi dan mulut,kontrol kesehatan gigi dan mulut,kti cara menjaga kesehatan gigi dan mulut balita,kti kesehatan gigi dan mulut,kti kesehatan gigi dan mulut pada anak,kuesioner kesehatan gigi dan mulut,laporan kesehatan gigi dan mulut,leaflet kesehatan gigi dan mulut,leaflet kesehatan gigi dan mulut anak,leaflet kesehatan gigi dan mulut pada ibu hamil,lembaga kesehatan gigi dan mulut,lembaga kesehatan gigi dan mulut halim,lembaga kesehatan gigi dan mulut tni au,lp kesehatan gigi dan mulut,makalah kesehatan gigi dan mulut balita,makalah kesehatan gigi dan mulut lansia,makalah kesehatan gigi dan mulut pada ibu hamil,makalah kesehatan gigi dan mulut pada lansia,makalah kesehatan gigi mulut,manfaat jeruk nipis untuk kesehatan gigi dan mulut,masalah kesehatan gigi dan mulut di indonesia,masalah kesehatan gigi dan mulut menurut who,masalah kesehatan gigi dan mulut pada ibu hamil,masalah kesehatan gigi dan mulut pada remaja,materi kesehatan gigi dan mulut dokter kecil,materi kesehatan gigi dan mulut untuk dokter kecil,materi kesehatan gigi mulut,materi penyuluhan kesehatan gigi dan mulut ibu hamil,materi penyuluhan kesehatan gigi dan mulut untuk ibu hamil,materi penyuluhan kesehatan gigi dan mulut untuk lansia,materi penyuluhan kesehatan gigi dan mulut untuk masyarakat,menjaga kesehatan gigi dan mulut anak-anak dan ibu hamil,menjaga kesehatan gigi dan mulut pada ibu hamil,menjaga kesehatan gigi dan mulut saat puasa,nutrisi untuk kesehatan gigi dan mulut,panduan kesehatan gigi dan mulut bagi ibu hamil,pelayanan kesehatan gigi dan mulut adalah,pelayanan kesehatan gigi dan mulut di rumah sakit,pelayanan kesehatan gigi dan mulut pada lansia,pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut ibu hamil,pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut pada ibu hamil,pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut pada lansia,penelitian kesehatan gigi dan mulut,pengaruh kesehatan gigi dan mulut terhadap halitosis,pengaruh narkoba terhadap kesehatan gigi dan mulut,pengertian kesehatan gigi & mulut,pengertian kesehatan gigi dan mulut menurut para ahli,pengertian kesehatan gigi dan mulut menurut who,pengertian kesehatan gigi dan mulut pada ibu hamil,pengertian kesehatan gigi dan mulut secara umum,pengertian kesehatan gigi dan mulut terbaru,pengetahuan kesehatan gigi dan mulut adalah,pentingnya kesehatan gigi dan mulut pada ibu hamil,pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut ibu hamil,penyuluhan kesehatan gigi dan mulut anak sd,penyuluhan kesehatan gigi dan mulut ibu hamil,penyuluhan kesehatan gigi dan mulut lansia,penyuluhan kesehatan gigi dan mulut pada ibu hamil,penyuluhan kesehatan gigi dan mulut pada ibu hamil pdf,penyuluhan kesehatan gigi dan mulut pada ibu hamil ppt,penyuluhan kesehatan gigi dan mulut pada lansia,penyuluhan kesehatan gigi dan mulut remaja,penyuluhan kesehatan gigi dan mulut untuk anak sd,penyuluhan kesehatan gigi dan mulut untuk ibu hamil,penyuluhan kesehatan gigi mulut,penyuluhan kesehatan gigi mulut ibu hamil,perawatan kesehatan gigi dan mulut bagi bayi dan balita,ppt kesehatan gigi dan mulut pada ibu hamil,profil kesehatan gigi dan mulut indonesia,program kesehatan gigi dan mulut masyarakat pdf,program kesehatan gigi mulut masyarakat,pusat kesehatan gigi dan mulut makassar,pusat pelayanan kesehatan gigi dan mulut bandung,referensi kesehatan gigi dan mulut,riskesdas kesehatan gigi dan mulut,rumah sakit kesehatan gigi dan mulut bandung,sap kesehatan gigi dan mulut,sap kesehatan gigi dan mulut pada ibu hamil,satpel kesehatan gigi dan mulut,seminar kesehatan gigi dan mulut,seputar kesehatan gigi dan mulut,skk kesehatan gigi dan mulut,skripsi kesehatan gigi dan mulut,skripsi kesehatan gigi dan mulut pada anak,slogan kesehatan gigi dan mulut,sop kesehatan gigi dan mulut,status kesehatan gigi dan mulut,survei kesehatan gigi dan mulut,target kesehatan gigi dan mulut,target nasional kesehatan gigi dan mulut,tentang kesehatan gigi dan mulut,teori kesehatan gigi dan mulut,tes kesehatan gigi dan mulut,tingkat kesehatan gigi dan mulut di indonesia,tips kesehatan gigi dan mulut,tips kesehatan gigi dan mulut bagi pengguna behel,tujuan kesehatan gigi dan mulut,upaya kesehatan gigi dan mulut,upaya kesehatan gigi dan mulut di puskesmas,upaya kesehatan gigi dan mulut masyarakat,usaha kesehatan gigi dan mulut masyarakat desa,uu kesehatan gigi dan mulut,uu tentang kesehatan gigi dan mulut,video kesehatan gigi dan mulut,dental health,dental health education,dental health center,dental health centre daerah khusus ibukota jakarta,dental health journal,dental health education journal,dental health care,dental health promotion,dental health program,dental health articles,dental health poster,dental health book dental health assessment,dental health and heart disease,dental health and pregnancy,dental health and breastfeeding,dental health and wellness,dental health and hygiene,dental health brochures,dental health blog,dental health diet,dental health diabetes,dental public health definition,dental health education posters,dental health effects on body,dental health facts,dental health for kids,dental health for seniors,dental health for life,dental health for toddlers,dental health formula

Powered by WordPress. Designed by WooThemes